
Detikbanua.com, BATULICIN –“Jangan jadi buaya kalau tidak punya biaya. ”Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi cukup menohok.
Sebab, di balik istilah “buaya”, ada gambaran tentang seseorang yang gemar tebar pesona, mendekati banyak orang, tetapi belum tentu siap dengan konsekuensinya.
Namun, jangan salah. Punya biaya bukan berarti otomatis punya izin untuk menjadi buaya.
Justru ada yang memilih prinsip berbeda“Kita punya biaya, tapi buaya bukan gaya kita.”
Artinya, kemampuan finansial tidak harus dipamerkan lewat banyak pasangan. Uang bukan alasan untuk mempermainkan perasaan, apalagi menjadikan hubungan sekadar ajang koleksi.
Sebab, kalau hanya bermodal uang untuk mendapatkan perhatian, mungkin banyak yang bisa dilakukan. Tetapi untuk mendapatkan kepercayaan, kesetiaan dan rasa hormat, ceritanya berbeda.
Dompet boleh tebal, tetapi jangan sampai komitmen yang tipis.
Punya uang bukan berarti boleh seenaknya. Punya banyak pilihan bukan berarti harus memilih semuanya.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang terlihat berkelas bukan berapa banyak orang yang berhasil didekati, tetapi berapa banyak hati yang mampu ia jaga tanpa disakiti.
Jadi, kalau ada yang bilang, “Jangan jadi buaya kalau tidak punya biaya,” jawabannya sederhana:
“Tenang, biaya kita ada. Tapi jadi buaya memang bukan gaya kita.”
Sebab punya biaya itu kemampuan, tetapi tidak menjadi buaya adalah pilihan.

