Detikbanua.com, TANAH BUMBU – Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi terbaik bagi bayi, terutama bagi bayi yang lahir prematur atau memerlukan perawatan khusus di ruang perinatologi. Namun, dalam kondisi tertentu, tidak semua ibu dapat menyusui bayinya secara langsung.
Pada situasi inilah ASI perah menjadi solusi penting agar bayi tetap mendapatkan haknya atas nutrisi terbaik sejak awal kehidupan.

RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Kabupaten Tanah Bumbu sebagai rumah sakit rujukan utama terus mendorong penguatan manajemen ASI perah dan pelayanan laktasi sebagai bagian dari peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi.
Upaya ini sejalan dengan komitmen rumah sakit dalam mendukung keselamatan pasien dan pelayanan neonatal yang berkualitas.
Berdasarkan hasil praktik kebijakan dan manajemen pelayanan kesehatan yang dilakukan di rumah sakit tersebut, layanan laktasi telah tersedia namun masih memerlukan penguatan agar lebih terintegrasi dan optimal, khususnya bagi ibu dengan bayi yang dirawat di ruang perinatologi.
Selama ini, fasilitas laktasi lebih banyak terpusat di area tertentu, sementara kebutuhan ibu dengan bayi risiko tinggi membutuhkan dukungan yang lebih intensif dan berkelanjutan.
Data rumah sakit menunjukkan bahwa setiap bulan terdapat puluhan bayi yang dirawat di ruang perinatologi, dan sebagian besar diantaranya membutuhkan asupan ASI.
Kondisi ini menegaskan bahwa pengelolaan ASI perah tidak dapat dilakukan secara sederhana, melainkan harus didukung oleh sistem yang jelas, aman, dan terstandar.
Penguatan manajemen ASI perah mencakup penyusunan standar operasional prosedur (SOP) yang mengatur alur pengelolaan ASI secara menyeluruh, mulai dari proses pemerahan, pelabelan identitas, penyimpanan, hingga pemberian kepada bayi.
Prosedur yang tertata dengan baik diharapkan dapat mencegah risiko kontaminasi serta kesalahan pemberian ASI, sekaligus menjamin mutu dan keamanan nutrisi bayi.
Selain aspek sistem dan fasilitas, sumber daya manusia juga memegang peran penting. RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor memiliki tenaga konselor ASI yang berpotensi besar dalam mendukung keberhasilan menyusui.
Dengan penguatan kebijakan internal dan pengaturan peran yang lebih terstruktur, konselor ASI diharapkan dapat memberikan edukasi dan pendampingan laktasi secara berkelanjutan kepada ibu, baik di ruang nifas maupun di ruang perinatologi.
Sebagai bagian dari inovasi pelayanan, dirancang pula sistem pencatatan dan serah terima ASI perah yang lebih tertelusur.
Sistem ini bertujuan memastikan bahwa setiap ASI perah yang diberikan benar-benar sesuai dengan identitas bayi, sehingga aspek keselamatan pasien tetap terjaga dan risiko kesalahan dapat diminimalkan.
Penguatan manajemen ASI perah memberikan manfaat yang luas. Bagi rumah sakit, sistem pelayanan yang lebih tertata akan meningkatkan mutu layanan dan citra institusi sebagai rumah sakit yang ramah ibu dan bayi.
Bagi tenaga kesehatan, kejelasan prosedur akan mempermudah pelaksanaan pelayanan dan mengurangi risiko kesalahan kerja. Sementara bagi ibu dan bayi, layanan laktasi yang optimal dapat meningkatkan kenyamanan ibu serta mendukung tumbuh kembang bayi secara maksimal.
Upaya penguatan layanan laktasi ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mendukung kesehatan ibu dan bayi di Kabupaten Tanah Bumbu.
Dengan sistem manajemen ASI perah yang semakin baik dan terintegrasi, setiap tetes ASI dapat menjadi investasi berharga bagi masa depan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Penulis: Sri Annisapada Jamaru
Afiliasi: Mahasiswa Magister Kebidanan, Universitas’Aisyiyah Yogyakarta






